"Udara yang terlihat berasap bukan hanya membuat sesak atau batuk. Partikel yang sangat kecil di dalam asap dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan dan mencapai bagian terdalam paru-paru"
Asap sering dianggap hanya sebagai sesuatu yang membuat mata perih, tenggorokan tidak nyaman, atau menyebabkan batuk sementara. Padahal, paparan asap dapat memberikan dampak yang lebih luas terhadap kesehatan, terutama apabila terjadi berulang atau dalam konsentrasi tinggi.
Asap dapat berasal dari berbagai sumber, seperti kebakaran hutan dan lahan, pembakaran sampah, kendaraan bermotor, aktivitas industri, rokok, maupun sumber pembakaran lainnya. Kandungannya dapat berupa partikel halus, gas, dan berbagai zat iritan yang berpotensi mengganggu sistem pernapasan.
World Health Organization (WHO) menjelaskan bahwa paparan partikel udara dalam konsentrasi tinggi dapat menyebabkan penurunan fungsi paru, infeksi saluran pernapasan, serta memperburuk asma. Dalam paparan jangka panjang, polusi udara juga berhubungan dengan peningkatan risiko Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) dan Kanker Paru.
Apa yang Membuat Asap Berbahaya bagi Paru-Paru?
Salah satu komponen yang menjadi perhatian adalah Particulate Matter (PM) atau Partikel Pencemar Udara.
Partikel berukuran sangat kecil, terutama PM2.5, dapat masuk melewati saluran pernapasan bagian atas dan mencapai bagian paru-paru yang lebih dalam.
Menurut WHO, "Fine particles can penetrate deep into the lungs and cardiovascular system" yang artinya "Partikel halus dapat menembus ke dalam paru-paru dan bahkan berhubungan dengan dampak pada sistem kardiovaskular".
Karena ukurannya sangat kecil, keberadaan PM2.5 tidak selalu dapat diketahui hanya dengan melihat kondisi udara. Udara yang tampak tidak terlalu berasap pun belum tentu bebas dari partikel pencemar.
Dampak Asap terhadap Paru-Paru
1. Menimbulkan iritasi saluran pernapasan
Paparan asap dapat mengiritasi hidung, tenggorokan, dan saluran napas. Keluhan yang dapat muncul antara lain:
Kementerian Kesehatan RI menjelaskan bahwa polusi udara dapat meningkatkan risiko gangguan saluran pernapasan, termasuk Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
2. Memicu atau memperburuk asma
Bagi seseorang yang memiliki asma, paparan asap dapat menjadi pemicu kambuhnya gejala. Saluran napas penderita asma lebih sensitif terhadap berbagai pemicu. Ketika terpapar partikel dan zat iritan dari asap, saluran napas dapat mengalami peradangan dan penyempitan sehingga gejala seperti batuk, mengi, dan sesak dapat menjadi lebih berat.
American Lung Association juga menyebutkan bahwa polusi partikel dapat memperburuk asma dan penyakit paru kronis lainnya.
Karena itu, penderita asma sebaiknya lebih berhati-hati ketika kualitas udara sedang buruk.
3. Menurunkan fungsi paru
Paparan partikel pencemar dalam jangka pendek maupun panjang dapat memepengaruhi fungsi paru.
WHO menyebutkan bahwa paparan PM2.5 dalam kadar tinggi dapat menyebabkan reduced lung function atau penurunan fungsi paru.
Dalam jangka panjang, paparan polusi udara juga berhubungan dengan penyakit paru kronis, termasuk Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK). Artinya, dampak polusi tidak selalu langsung terasa. Kerusakan atau penurunan fungsi paru dapat berkembang secara perlahan akibat paparan berulang.
4. Meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan
Paru-paru memiliki mekanisme pertahanan untuk membantu menangkap dan mengeluarkan partikel asing yang masuk bersama udara.
Paparan partikel dalam jumlah tinggi dapat mengganggu mekanisme pertahanan tersebut.
U.S. Environmental Protection Agency (EPA) menjelaskan bahwa paparan partikel halus dari asap dapat menyebabkan batuk, produksi dahak, mengi, dan kesulitan bernapas, serta dapat mempengaruhi kemampuan tubuh membersihkan material asing dari paru-paru.
Kondisi tersebut dapat membuat saluran pernapasan lebih rentan terhadap berbagai gangguan.
5. Memperburuk PPOK dan penyakit paru lainnya
POrang yang sudah memiliki penyakit paru kronis dapat mengalami gejala yang lebih berat ketika terpapar asap. Misalnya pada penderita:
Keluhan seperti batuk, sesak, mengi, dan produksi dahak dapat meningkat.
American Lung Association menyebutkan bahwa asap kebakaran dapat sangat berbahaya bagi paru-paru, khususnya bagi anak-anak, lansia, serta orang dengan asma atau PPOK.
Siapa yang Lebih Rentan terhadap Paparan Asap?
Tidak semua orang memberikan respons yang sama terhadap asap. Kelompok yang perlu mendapatkan perhatian lebih antara lain:
???? Anak-anak
Paru-paru anak masih berkembang sehingga lebih rentan terhadap paparan polutan.
???? Lansia
Kemampuan tubuh menghadapi stres akibat polusi dapat menurun seiring bertambahnya usia.
???? Ibu hamil
Paparan polusi udara perlu diminimalkan karena dapat memberikan dampak terhadap kesehatan ibu dan kehamilan.
??????????? Penderita asma atau PPOK
Paparan asap dapat memperburuk gejala dan meningkatkan risiko membutuhkan pertolongan medis.
?? Penderita penyakit jantung
Partikel halus tidak hanya berdampak pada paru-paru, tetapi juga dapat berkaitan dengan gangguan kardiovaskular.
Jaga Paru-Paru, Mulai dari Udara yang Kita Hirup
Paru-paru bekerja tanpa henti sejak kita menarik napas pertama. Setiap hari, paru-paru kita berhadapan dengan udara dari lingkungan sekitar, termasuk berbagai partikel dan zat pencemar yang mungkin tidak terlihat.
WHO menyebut polusi udara sebagai salah satu faktor risiko lingkungan utama bagi kesehatan dan memperkirakan dampaknya berkontribusi terhadap jutaan kematian setiap tahun di seluruh dunia. WHO juga menekankan bahwa paparan partikel halus berkaitan dengan berbagai penyakit pernapasan dan kardiovaskular.
Karena itu, menjaga kesehatan paru-paru bukan hanya dilakukan ketika sudah mengalami sesak atau batuk. Mulailah dari hal sederhana, seperti:
Asap mungkin hanya terlihat sebentar, tetapi dampaknya terhadap kesehatan bisa lebih panjang. Jika anda atau keluarga mengalami batuk berkepanjangan, sesak napas, mengi, atau keluhan pernapasan lainnya, konsultasikan dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang sesuai.
Referensi: