Artikel Kesehatan

ISPA Bukan Sekedar Batuk Pilek: Kenali Gejala dan Penyebabnya


Batuk, pilek, dan sakit tenggorokan sering dianggap sebagai keluhan ringan yang bisa sembuh dengan sendirinya. Namun, tahukah Anda bahwa gejala tersebut dapat menjadi tanda Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)?


ISPA merupakan salah satu masalah kesehatan yang dapat dialami siapa saja, mulai dari bayi, anak-anak, orang dewasa, hingga lansia. Sebagian besar infeksi pernapasan bersifat ringan, tetapi beberapa kondisi dapat berkembang menjadi penyakit serius, seperti pneumonia atau infeksi paru-paru.


Karena itu, mengenali gejala sejak dini, memahami penyebabnya, dan mengetahui kapan harus mencari pertolongan medis merupakan langkah penting untuk melindungi kesehatan diri sendiri dan keluarga.



Apa Itu ISPA?

Infeksi Saluran Pernapasan Akut atau ISPA adalah infeksi yang menyerang saluran pernapasan, baik bagian atas maupun bagian bawah.


Saluran pernapasan atas meliputi hidung, rongga sinus, dan tenggorokan, sedangkan saluran pernapasan bawah mencakup saluran napas menuju paru-paru.


ISPA bukanlah satu jenis penyakit tertentu, melainkan istilah yang mencakup berbagai infeksi pernapasan dengan penyebab dan tingkat keparahan yang berbeda-beda.


Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menjelaskan bahwa ISPA dapat mempengaruhi berbagai bagian saluran pernapasan, mulai dari hidung hingga paru-paru, dan dapat disebabkan oleh virus, bakteri, maupun mikroorganisme lainnya. 


Artinya, keluhan batuk dan pilek tidak selalu menunjukkan penyakit yang sama. Penilaian terhadap gejala, kondisi pasien, serta pemeriksaan tenaga medis diperlukan untuk menentukan kemungkinan penyebab dan penanganan yang tepat.



Apa Saja Penyebab ISPA?  

ISPA dapat disebabkan oleh beberapa jenis mikroorganisme, terutama virus dan pada sebagian kasus bakteri.


Beberapa contoh penyebab infeksi saluran pernapasan antara lain:

  • Rhinovirus, salah satu penyebab umum selesma atau pilek biasa.
  • Virus Influenza, penyebab penyakit influenza yang dapat menimbulkan demam, batuk, nyeri otot, dan tubuh terasa lemas.
  • Respiratory Syncytial Virus (RSV), virus yang dapat menyebabkan infeksi saluran pernapasan dan berisiko menimbulkan penyakit berat pada bayi serta kelompok tertentu.
  • Bateri, seperti Streptococcus Pnuemoniae, yang dapat menyebabkan pneumonia dan infeksi lainnya.

Tidak semua ISPA disebabkan oleh bakteri. Banyak infeksi saluran pernapasan, terutama selesma, disebabkan oleh virus.


Center for Disease Control and prevention (CDC) menjelaskan bahwa antibiotik bekerja terhadap infeksi bakteri, bukan infeksi virus. Oleh karena itu, antibiotik tidak boleh digunakan sembarangan untuk mengatasi batuk dan pilek.



Bagaimana ISPA Menular?

Sebagian besar ISPA yang disebabkan oleh patogen pernapasan dapat menyebar dari satu orang ke orang lain melalui partikel pernapasan yang dikeluarkan saat batuk, bersin, berbicara, atau bernapas.


Risiko penularan dapat meningkat ketika seseorang berada berdekatan dengan orang yang sedang terinfeksi, terutama di ruangan tertutup dengan ventilasi yang kurang baik.


Penularan juga dapat terjadi melalui tangan atau permukaan yang terkontaminasi, kemudian menyentuh mata, hidung, atau mulut, bergantung pada jenis patogennya.


Itulah sebabnya, menjaga kebersihan tangan, menerapkan etika batuk, dan memperbaiki sirkulasi udara menjadi bagian penting dari upaya pencegahan.



Kenali Gejala ISPA

Gejala ISPA dapat berbeda pada setiap orang, tergantung pada penyebab infeksi, usia, dan kondisi kesehatannya.


Beberapa gejala yang umum dijumpai meliputi:

  • Batuk kering atau batuk berdahak.
  • Pilek atau hidung tersumbat.
  • Bersin.
  • Sakit atau rasa tidak nyaman di tenggorokan.
  • Demam atau menggigil.
  • Sakit kepala.
  • Nyeri otot dan tubuh terasa pegal.
  • Badan lemas atau mudah lelah.
  • Nafsu makan berkurang.

Pada sebagian orang, gejala dapat membaik secara bertahap dengan perawatan yang sesuai. Namun, ada pula kondisi ketika infeksi berkembang menjadi lebih berat.



Siapa yang Lebih Berisiko Mengalami ISPA Berat?

ISPA dapat menyerang semua kelompok usia. Namun, World Health Organization (WHO) menyebutkan bahwa infeksi pernapasan dapat menimbulkan penyakit lebih berat, antara lain:

  • Bayi dan anak kecil, terutama bayi yang masih sangat muda.
  • Lansia.
  • Ibu hamil.
  • Orang dengan penyakit kronis, seperti penyakit hantung, penyakit paru, diabetes, atau gangguan ginjal.
  • Orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.

Bagi kelompok tersebut, pemeriksaan medis lebih dini sangat dianjurkan ketika mulai mengalami gejala infeksi pernapasan, terutama jika keluhan terasa memburuk.



JANGAN ABAIKAN! Kapan Harus ke Dokter?

Segera ke IGD jika mengalami tanda bahaya berikut:

  1. Pada orang dewasa

  • Sesak napas berat atau kesulitan bernapas.
  • Nyeri atau tekanan dada yang menetap atau berat.
  • Kebingungan, sulit dibangunkan, atau penurunan kesadaran.
  • Bibir atau wajah tampak kebiruan.
  • Kondisi sempat membaik, tetapi kemudian kembali memburuk disertai gangguan pernapasan atau kondisi umum yang berat.

  2. Pada bayi dan anak

  • Napas terlihat sangat cepat atau anak kesulitan bernapas.
  • Dada bagian bawah tampak tertarik ke dalam saat menarik napas.
  • Bibir atau wajah tampak kebiruan.
  • Anak sangat lemas, sulit dibangunkan, atau mengalami kejang.
  • Anak tidak mampu minum atau menunjukkan tanda dehidrasi berat.

Jika ditemukan tanda bahaya, jangan menunggu gejala hilang dengan sendirinya. Segera cari pertolongan medis di IGD atau layanan kegawatdaruratan terdekat.


Segera konsultasikan ke Dokter jika:

  1. Demam tinggi atau demam berlangsung lebih dari 3 (tiga) hari.

  2. Batuk dan pilek semakin berat atau tidak menunjukkan perbaikan.

  3. Batuk disertai darah.

  4. Asupan makan atau minum menurun.

  5. Keluhan muncul pada bayi, lansia, ibu hamil, atau pasien dengan penyakit penyerta.

  6. Gejala sempat membaik, tetapi kembali memburuk.


Pada bayi berusia kurang dari tiga bulan, suhu tubuh 38 derajat celcius atau lebih, memerlukan evaluasi medis segera.


Batas waktu di atas bukan alasan untuk menunda pemeriksaan jika kondisi sudah berat. Keputusan pemeriksaan dan penanganan tetap perlu mempertimbangkan usia serta kondisi pasien.



ANTIBIOTIK Bukan Obat untuk Semua Batuk dan Pilek

Salah satu kesalahpahaman yang masing sering terjadi adalah anggapan bahwa batuk berdahak atau pilek berkepanjangan selalu membutuhkan antibiotik.


Faktanya, warna dahak saja tidak cukup untuk memastikan bahwa infeksi disebabkan oleh bakteri.


Antibiotik tidak dapat membunuh virus. Penggunaannya tanpa indikasi dapat menimbulkan efek samping dan berkontribusi terhadap resistensi antimikroba, yaitu kondisi ketika mikroorganisme menjadi kebal terhadap obat antimikroba.


Gunakan antibiotik hanya sesuai resep dan intruksi tenaga kesehatan. Jangan menggunakan sisa antibiotik, berbagai  obat atau mengubah aturan pemakaian sendiri.



Pemeriksaan ISPA di Fasilitas Pelayanan Kesehatan

Ketika datang untuk pemeriksaan, Dokter akan menilai keluhan, lama gejala, riwayat kesehatan, faktor risiko, suhu tubuh, pola pernapasan, dan kondisi umum pasien.


Pemeriksaan fisik dapat meliputi penilaian frekuensi napas, kadar oksigen bila diperlukan, serta pemeriksaan paru-paru.


Tidak semua pasien ISPA memerlukan pemeriksaan laboratorium atau rontgen. Pemeriksaan tambahan ditentukan berdasarkan indikasi medis, misalnya jika dicurigai pneumonia, infeksi tertentu, atau terdapat risiko komplikasi.


Penanganan akan disesuaikan dengan diagnosis dan kondisi pasien. Karena itu, hindari mendiagnosis diri sendiri hanya berdasarkan gejala yang ditemukan di internet.



Lindungi Diri atau Keluarga, Mulai dari Langkah Sederhana




Referensi:

  • Kementerian Kesehatan Republik Indonesia; Mengenali Gejala ISPA dan Tindakan yang Perlu Dilakukan.
  • Kementerian Kesehatan Republik Indonesia; Jangan Anggap Sepele Kenali Gejala dan Cara Mencegah ISPA.
  • Center for Disease Control and Prevention (CDC); About Respiratory Illnesses.
  • National Health Service (NHS); Respiratory Tract Infections (RTIs).

Artikel Lainnya

Gejala Demam

614 views